[Film] Looking My Eyes

sad_副本

LOOKING MY EYES

SS ENTERTAINMENT PRESENT

“Lihatlah matanya dan hatinya jika kau memang mencintainya. Jika tidak, kita tidak akan tau, apa dia mencintai kita, atau tidak.”

 

Cast :

–          Park Ji Yeon a.k.a Park Ye Eun

–          Song Joong Ki a.k.a Lee Jong Min

–          Kim Hyun Joong a.k.a Shin Yeong Min

Genre : Sad – Romance

Rating : Teens

Summary : “Lihatlah matanya dan hatinya jika kau memang mencintainya. Jika tidak, kita tidak akan tau, apa dia mencintai kita, atau tidak.”

 

-oOo-

            “Jong Min!!” teriak si gadis berambut hitam tergerai itu sambil berlari – lari di koridor menuju seorang pria yang menoleh padanya dan menunggu Park Ye Eun menghampirinya. “Hah… Jong Min! kau itu tega sekali padaku! Aku piket! Dan kalau tidak ada kau! Aku malas pulang jalan kaki!”

Jong Min si pemilik mata sipit itu tersenyum. “Aissh… mianhae. Makanya, kalau mau pulang denganku bilang dulu.”

“Bukankah kita selalu pulang bersama tanpa ku bilang terlebih dahulu padamu?” tanya Ye Eun sambil merangkul lengan Jong Min dan berjalan bersama menuruni tangga.

“Ne… arraseo.”

Ye Eun pun berjalan mundur dan berhadapan dengan Jong Min, si namja manis. “Nanti malam, aku ada les piano. Antarkan aku ya.”

“Huh! Kau menganggapku seperti tukang ojekmu saja.” keluh Jong Min. dan ia memandang Ye Eun yang sedang berjalan mundur di hadapannya. Tapi tiba – tiba pandangannya kabur. Sesekali terlihat gelap bagai mati lampu. Tapi Jong Min berusaha biasa saja dan tidak terjadi apa – apa.

“Ne?” tanya Ye Eun setelah dari tadi mengoceh.

Jong Min menatap Ye Eun yang telah terlihat terang kembali. Ia baru saja kembali focus setelah tadi ia merasa kiamat. “Apanya?”

“Kau tidak mendengarkanku?!” kesal Ye Eun begitu ia sudah sampai di anak tangga terakhir lantai 1. “Aku hanya menyukaimu! Jadi aku hanya mau di antar olehmu. Ne?”

Si bibir pink itu tersenyum begitu lebar. Entah sejak kapan jantungnya pun berdebar tidak karuan saat memandangi gadis pendek di depannya.

“Ayo!” seru Ye Eun melambaikan tangannya seakan menyuruh Jong Min cepat mengikuti dirinya yang kini sudah beberapa jarak dari Jong Min. dan yang di panggil hanya tersenyum dan melangkah agak cepat mengikuti gadis lincah tersebut.

 

-oOo-

            “Matamu semakin memburuk Jong Min. kapan kau akan melakukan operasi? Kau belum menemukan pendonor untuk matamu?” tanya sang pria bertubuh tinggi besar berjas putih tersebut pada pasiennya yang sedang duduk termenung di hadapannya.

“Aku tidak tau. Aku belum menemukannya. Apakah, aku akan segera buta?”

“Hmh… mungkin 2 atau 3 minggu lagi, jika matamu tidak kau biarkan terus beristirahat, maka kiamat bagimu.” Jelas sang dokter menakuti Jong Min. tapi yang di takuti hanya bisa diam membisu.

 

-oOo-

            Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dengan begitu cepat. Sementara ada dua orang yang hendak menyebrang dengan sepeda mereka. Seorang gadis yang tidak tau ada mobil pun, lanjut mengayuh sepedanya. Tentu saja sang lelaki yang ada di sebelahnya segera ngebut menyusul gadis itu dan mendorongnya hingga lebih cepat agar bisa selamat dari bahaya itu. namun, bukannya berbuah keberuntungan, lelaki dengan seragam SMP itu lah yang terkena mala petaka tersebut. “AAA~!!!”

Dengan sigap Jong Min membuka matanya. Ya, ia kembali tertidur di kelas. Matanya tidak bisa lagi bertahan lebih lama. Ia cepat sekali mengantuk, sering merasa pusing, dan pandangannya tiba – tiba sering kabur. Semuanya karena kecelakaan yang menimpa dirinya 2 tahun yang lalu.

TENG TENG TENG~! Suara bell di sekolah mereka telah berbunyi. Tanda pelajaran telah selesai. Jong Min dengan kepura – puraannya untuk segar, segera bangun dari bangkunya dan menghampiri seorang gadis yang sudah lama ia kenal.

“DOR!” Jong Min membuat kaget Ye Eun dari belakang sambil menepuk pundaknya.

Otomatis Ye Eun yang dari tadi menulis di atas kertas warna biru muda itu ditutupinya dengan kedua lengannya. Lalu ia pun menoleh. “Jong Min-a? kenapa kau mengagetiku eo?”

Jong Min tersenyum dan duduk di bangku kosong depan meja Ye Eun. “Haha… habis kau terlihat serius. Apa itu? kau menulis apa?”

“Anii!” Ye Eun mengambil kertasnya dan memeluknya di dadanya.

Jong Min semakin semangat menggodanya. Ia pun langsung menyambar kertas itu dan Jong Min mendapatkannya.

“Kembalikan!!!” Ye Eun langsung berdiri dan langsung berlari mengejar Jong Min untuk segera mendapatkannya. Tapi nihil, Jong Min lebih tinggi darinya. Hingga ia tidak bisa dengan mudah mendapatkan kertas yang sudah di junjung tinggi ke atas.

“Aku, cinta mr.Min … love u Mr.Min….” baca Jong Min sedikit sambil mendongakkan kepalanya. Namun Ye Eun menarik tangan kanan Jong Min dimana tangan itu memegang kertas curhatannya. Lalu langsung menyambar kertas itu dengan cepat lalu meremasnya kemudian ia masukkan ke kantong. Jong Min tersenyum nakal pada Ye Eun yang terlihat marah. “Ehem ehem… siapa itu mr.Min? kau mencintai mr.Min? emm… biar aku tebak, pria itu…,”

“Bukan siapa – siapa.” Elak Ye Eun kemudian berjalan menuju bangkunya lagi untuk merapihkan buku – bukunya yang berserakan di atas meja.

Jong Min pun duduk di atas meja Ye Eun berusaha mengganggu si gadis cerewet itu. “Siapa? Mr.Min? siapa yang punya nama Mr.Min? ayolah… aku ini kau anggap siapa eo?”

“Mr.Min? kau tidak tau? Dia itu dekat denganmu. Sangat dekat. Kau mengenalnya.” Goda Ye Eun membuat Jong Min mengangkat alisnya.

“Sangat dekat? Aku mengenalnya? Siapa? Aku tidak dekat dengan banyak pria.”

Ye Eun tersenyum dan segera bergegas keluar kelas. Sementara Jong Min, masih di atas meja berpikir siapa mr.Min tersebut. Dan pikirannya pun melayang pada ucapan Ye Eun beberapa hari yang lalu.

…. “Aku hanya menyukaimu! Jadi aku hanya mau di antar olehmu. Ne?”

DEG! Jantung Jong Min berpacu begitu cepat seakan ia mau mati. Nafasnya sesak, wajahnya bersemu. Dan mulutnya bergerak.

“Aku? Jong Min, mr.Min? ya? Aku?! AKU?!” teriak Jong Min sendiri sambil menunjuk dadanya.

 

-oOo-

            Pulang sekolah, tidak biasanya Jong Min segerogi ini. Tangannya agak bergetar sambil mengayuh sepedanya dimana Ye Eun tengah di boncenginya di belakang sambil memeluk perut ratanya dengan sebelah tangan si gadis.

“Nampaknya sepedanya bergoyang. Apa bannya bocor ya?” tanya Ye Eun heran.

“Ini karena kau semakin gendut.” Goda Jong Min.

“Omo! Kau ini semakin mengesalkan saja!” gerutu Ye Eun sambil mencubit perut Jong Min dari belakang.

“Yak!!” seru Jong Min.

“Dasar perut rata.”

Jong Min hanya senyum – senyum sendiri sambil terus mengayuh sepedanya.

 

-oOo-

            Siang ini, di kelas, dimana semua orang sedang menyantap makan siang di kantin, Jong Min mengambil kado yang sudah ia siapkan di tas. Kemudian tersenyum melihatnya. Lalu segera memasukkan kado tersebut di dalam tas Ye Eun.

 

-oOo-

            Ye Eun hari ini membawa sepedanya karena sepeda kesayangannya itu berhasil di perbaiki. Tapi ketika ia menghampiri sepedanya yang ada di parkiran, ia cukup terkejut melihat sepedanya yang sudah di hiasi bunga mawar merah di sana sini.

“Aigoo… siapa yang melakukan ini? Apa aku akan mengikuti karnaval sepeda? Ckck.” Kesal Ye Eun lalu berusaha melepaskan seluruh mawarnya.

Jong Min yang baru datang pun langsung menyapa Ye Eun. “Ye Eun-a… kau sedang apa?”

Ye Eun menoleh ke belakang dan berdiri di hadapan Jong Min sambil menunjukkan bunga – bunga mawar yang sudah berhasil ia cabut itu. “Ini, ada orang iseng yang menautkan mawar – mawar ini di sepedaku. Dia pikir aku akan ikut karnaval sepeda? Ah! mengesalkan.”

Jong Min tersenyum. “Mungkin saja itu Mr.Min.”

Mendengar itu, tentu saja si rambut ikal coklat itu mengembangkan senyumnya. Matanya pun berbinar. “Jadi benar dari mr.Min?! sudah ku bilang, dia itu dekat denganmu! Jadi kau akan tau.”

Walaupun cukup aneh di kuping Jong Min, ia berusaha untuk menyatakan cintanya pada Ye Eun yang telah lama ia pendam. Matanya tidak akan lama lagi bisa melihat sinar cerah dari gadis yang ada di hadapannya. “Ye Eun, aku…,”

“Aku harus segera menyatakan perasaanku padanya.”

“Hm?” kaget Jong Min.

“Ya, sepulang sekolah aku akan bertemu dengannya di kafe. Apa kau mau ikut? Ikut ya….” Rengek Ye Eun sambil menggoyang – goyangkan tangan Jong Min.

Mata Jong Min menyipit dan alisnya berkerut. “Siapa memangnya?”

“Kau tidak tahu?” Ye Eun melepaskan tangan Jong Min kemudian menatap mata namja yang ada di depannya. Tapi kemudian ia pun berjinjit dan membisiki sesuatu di telinga Jong Min. “Dia adalah Shin Yeong Min. dia ketua klub basket kelas 3.”

DEG!

Seakan jantung Jong Min berhenti saat itu juga. Ternyata yang ada di pikirannya ini salah. Bukan Lee Jong Min inisial dari mr.Min. tetapi Shin Yeong Min. kakinya melemas seakan tidak bisa bertahan untuk berdiri lebih lama lagi.

“Ya, ya! Kau kenal kan dengannya?”

Jong Min terdiam. Ia berbalik hendak meninggalkan Ye Eun. Namun si yeoja malah mengejarnya dan mengalungkan lengannya sendiri pada lengan Jong Min.

“Kau marah karena aku selalu minta kau menemaniku eo?”

“A, anii… hanya saja, sore ini aku harus membantu eomma ku. Pesanan catring sedang banyak hari ini. A, aku pulang dulu.” Tanpa menatap Ye Eun, Jong Min pun menarik lengannya dan segera menuju sepedanya kemudian menggenjotnya keluar sekolah.

Ye Eun hanya berdiri menatap pasrah sahabatnya itu pergi dan tidak mau menemaninya bertemu dengan orang yang di idolakannya itu.

 

-oOo-

            Bergegas Ye Eun ke kafe yang sudah di janjikan setelah ia pulang ke rumah untuk ganti baju dan berdandan sedikit. Ya, hari itu juga, detik itu juga, Ye Eun akan menyatakan cintanya pada Shin Yeong Min alias kakak kelas si ketua klub basket tersebut.

Begitu sampai, Ye Eun langsung masuk ke dalam kafe itu dan matanya mulai mencari – cari sosok namja tampan yang sudah menunggunya. Dan akhirnya ia menemukannya di dekat jendela. Yeong Min pun melambaikan tangan pada gadis yang tengah mencari sosoknya tersebut.

Segera Ye Eun dengan sepatu high hells yang jarang ia pakai kecuali acara – acara tertentu, menghampiri meja Yeong Min berada. Ia membungkuk sebentar. “Anyeong….”

Hampir saja Ye Eun mau duduk. Tapi Yeong Min berdiri dan menggeret kursi di sebelah Ye Eun. Ia tersenyum dan membuat yeoja di dekatnya itu salah tingkah lalu langsung duduk di kursi yang sudah di geretkan Yeong Min. setelah Ye Eun duduk, si namja dengan rambut acak – acakan namun keren itu kembali pada bangkunya. “Kau mau makan apa? Ku traktir.”

Ciittt~ sepeda hitam milik Lee Jong Min berhenti di dekat kafe tempat Ye Eun janjian dengan Yeong Min. ia melihat sahabatnya bersama seorang kakak kelas dari kaca besar kafe tersebut. Ia melihat kedua orang itu dari luar secara diam – diam. Walaupun kesal, ia mencoba bersabar sambil meremas gagang sepeda itu.

Ye Eun dan Yeong Min yang sedang menikmati waffle madu di dalam kafe itu makan dengan begitu tenang. Namun sesekali mata Ye Eun melirik menatap Yeong Min yang sedang mengunyah dengan mulut tertutup. Bibirnya bergerak – gerak mengikuti irama kunyahan giginya. Ye Eun tidak berkedip melihat namja tampan yang dalam posisi apapun tetap terlihat keren.

“Kenapa menatapku terus?” tanya Yeong Min tiba – tiba sambil mengiris wafflenya.

“Mwo?” kaget Ye Eun dan kembali menyantap waffle miliknya.

Yeong Min tersenyum lalu menatap Ye Eun yang nampak gugup. “Aku tidak tau, ada fans yang gerogi seperti ini saat makan denganku. Banyak fans yang memintaku makan siang. Tapi mereka ramai sekali. Bahkan memintaku foto bareng, minta tanda tangan dan….”

“Jadilah pacarku!” tegas Ye Eun tiba – tiba.

Mata Yeong Min membelalak mendengar penuturan dari adik kelasnya tersebut. Ia tertawa lirih. Giginya yang rata menampakkan ketampanan dirinya.

“Kenapa Oppa tertawa? Apa ini lucu?”

Yeong Min masih saja tertawa lirih. Tapi tiba – tiba ia mengacak rambut Ye Eun sebentar. “Kau ini pemberani. Aku sungguh kagum padamu.”

Ye Eun terdiam kemudian menunduk.

“Baiklah. Aku akan menjadi pacarmu. Kau senang?”

Yeoja dengan rambut ikal tergerai dan berponi itu mendongakkan kepalanya dan menatap namja di depannya dengan tidak yakin. “Mwo? Jinjjayo Oppa? Oppa tidaka bercanda kan?”

“Apa aku terlihat bercanda?” Yeong Min menepuk – nepuk wajahnya yang mulus itu.

“Ke, kenapa Oppa menerimaku?”

“Hmm… karena aku suka.” Jawab Shin Yeong Min dengan entengnya. Lalu ia mencubit pipi Ye Eun yang agak chubby itu. “Kau ini adik kelasku yang lucu.”

Mata Jong Min membelalak melihat adegan itu. ia tidak dapat menahannya lagi. Dan tiba – tiba kepalanya pusing. Pandangannya berubah buram. Ia memegang kepalanya yang berdenyut kencang. Tapi segera lah namja yang masih berpakaian sekolah itu mengayuh sepedanya untuk pulang.

 

-oOo-

            Seminggu lamanya sudah Ye Eun dan Yeong Min berpacaran. Gossip hangat terus mengalir tentang dua sejoli itu di madding ataupun di mulut para siswa/siswi yang ada di sekolah mereka. Keromantisan mereka terus bertambah hingga Ye Eun tidak ngeh kalau Jong Min, seorang sahabat yang selalu ada di sisinya dulu sudah seminggu tidak masuk. Hingga akhirnya seseorang yang telah menyadarkan semua itu.

Ye Eun pergi ke sebuah toko roti untuk membeli kue ulang tahun karena besok Yeong Min akan ulang tahun.

“Aku pesan ini.” Tunjuk Ye Eun pada sebuah kue berbentuk bulat yang di hiasi coklat, krim dan juga cherry di atasnya.

Segera si pelayan mengambilnya. Dan gadis yang membeli itu pun menunggu kuenya selesai di bungkus.

“Oppa, besok kau ingin hadiah apa?” tanya seorang yeoja bersuara lembut.

“Hmm… bagaimana kalau masakanmu?” jawab namja yang tadi di tanya tersebut.

Suara yang tidak asing di telinga Ye Eun itu pun, menyita perhatian Ye Eun. Membuat yeoja itu menoleh ke sumber suara. Dan matanya membulat melihat orang yang tidak asing baginya tengah berdiri memilih kue tart si bagian barat yang di sisinya ada seorang yeoja berambut panjang dan berpenampilan sangat elegant. Kaki Ye Eun melangkah mendekat namja itu. ketika tidak sengaja si namja dengan rambut coklat itu menoleh ke yeoja di sebelahnya, Ye Eun semakin cepat melangkah dan menarik lengan yang tidak lain adalah Yeong Min, pacar Ye Eun satu minggu yang lalu.

“Oppa!”

Yeong Min pun di buat kaget oleh kehadiran Ye Eun saat itu. wajahnya membeku melihat yeoja alias adik kelas sekaligus pacarnya itu ada di sana.

“Siapa dia Oppa?” tanya si rambut panjang dengan make up tebal pada Yeong Min.

Ye Eun melihat yeoja itu dengan seksama. Ia seperti mengenalnya. Ya, itu kakak kelas Ye Eun juga. Dan dia pemandu cheerleader. “Eonni… kau, pacar oppa Yeong Min?”

“Iya. Aku pacar oppa Yeong Min.” segera yeoja itu merangkul lengan Yeong Min. mata Ye Eun kembali membulat. Matanya sudah memerah menahan air mata yang sebentar lagi terjatuh. “Kau adik kelas yang di gossipi oleh semua murid kan? Kau Cuma fansnya saja kan?”

Yeong Min hanya terdiam. Tapi Ye Eun tidak bisa tinggal diam. Ia menatap mata kekasihnya ah bukan, mungkin mantan kekasihnya yang ada di hadapannya. “Oppa… sampai di sini saja kan?”

Namja dengan kaos basketnya itu akhirnya menatap Ye Eun, orang yang mengatakan cinta padanya. “Iya, sampai disini saja.”

“Oppa… apa maksudmu? Eo?” tanya yeoja yang tingginya hampir sama dengan Yeong Min.

Mata Ye Eun sudah tidak kuat lagi menampung air matanya. Seketika air bening itu menetes dan mengalir halus pada pipinya. Kemudian kakinya langsung melangkah keluar toko itu dengan gontai. Sementara Yeong Min, harus memikirkan alasan untuk dijleaskan pada yeoja yang menjadi pacarnya telah lama itu. sebenarnya ia menerima Ye Eun supaya imagenya tidak tercoreng dengan kata sombong.

 

-oOo-

            Sejak kejadian di siang itu, Ye Eun mulai panic mencari sosok Jong Min.

“Kau tau dimana rumah Jong Min?” tanya Ye Eun pada teman sekelasnya yang bergender pria.

“Tidak.”

“Kau tau dimana rumah Jong Min?” kini Ye Eun bertanya pada namja di sebelah orang yang di tanya tadi. Tapi jawabannya hanya gelengan.

Ia kembali berlari dan menemukan namja yang sering ia lihat dengan Jong Min sedang membaca buku sambil jalan. Ye Eun pun langsung menghentikannya.

“Kau tau dimana rumah Jong Min?”

“Hm? Jong Min? kenapa memangnya?” tanya namja itu sambil memandangi Ye Eun heran.

“Ne. Jong Min. dia sudah lama tidak masuk sekolah. Ada apa dengannya?”

Namja itu berpikir. Hingga akhirnya ia membuka mulutnya. “Dia di kabarkan meninggal. Apa kau tidak tau?”

Mendengar itu, Ye Eun melemas. “M, mwo?”

“Tapi aku tidak tau pasti. Banyak orang yang mengatakan itu. dia ada di apertemen pertigaan sekolah. Dia…,”

Belum sempat orang itu mengucapkan kata lebih banyak, Ye Eun segera berlari meninggalkan lorong itu. ia keluar sekolah dan masa bodoh dengan teriakan satpam sekolah. Bahkan Ye Eun pun malah melompat dari gerbang. Ia berlari sekencang – kencangnya mencari Jong Min.

Andwae! Jong Min tidak boleh mati!!’ seru Ye Eun dalam hatinya sendiri sambil terus berlari.

Namun tiba – tiba ia menabrak seorang.

“Mianhae!” ucap Ye Eun sambil membungkuk dan kembali berlari. Tapi tunggu dulu, ia menghentikan kakinya, kembali berbalik dan menghampiri orang buta yang masih berdiri di tempat. “Jong Min?!”

Lelaki itu terdiam. Matanya tidak tentu arah kemudian mengeluarkan air mata. Namun ia masih bisa tersenyum. “Kau… kenapa kemari?”

“Jong Min!!” Ye Eun malah langsung memeluknya dengan begitu erat. Tapi ia melepasnya kembali. “Ku kira kau sudah mati. Aku senang melihatmu lagi Jong Min!”

Jong Min tersenyum. Tapi tiba – tiba ia ambruk ke arah Ye Eun.

“Jo, Jong Min!”

 

-oOo-

            “Dia menjadi seperti ini, sejak kecelakaan yang menimpanya 2 tahun lalu. Matanya, perlahan – lahan akan mulai buta.” Jelas si dokter itu setelah memeriksa Jong Min.

Ye Eun terdiam. Ia memutar otaknya. 2 tahun lalu, di mana ia di selamatkan oleh seseorang. Seseorang yang rela tertabrak mobil. “Ja, jadi….”

 

-oOo-

            Ye Eun, seorang gadis dengan baju seragam menghampiri Jong Min yang masih terbaring di atas ranjang pasien. Ia meneteskan air matanya dan mengalir di pipi mulusnya. Bibirnya bergetar. “Mianhae… karna aku…. Karna aku kau…,”

“Ye Eun….” Lirih Jong Min yang sudah setengah tersadar.

Tentu saja gadis yang di panggil itu kaget. “Jo, Jong Min!”

“Kenapa kau disini? Bukankah ini masih jam sekolah?” tanya Jong Min dengan mata terpejam.

“Anii… aku, aku pulang cepat hari ini.”

Mata Jong Min terbuka. Ia melihat wajah Ye Eun dengan pandangannya yang buram. Kemudian tangannya pun meraih pipi Ye Eun yang lembab. Dan mengelusnya hingga pipinya yang lembab itu kering. “Kenapa kau menangis?”

“Aniyo….” Jawab Ye Eun sambil memegang tangan Jong Min yang ada di pipinya.

Jong Min pun tersenyum. “Bagaimana kabarmu dengan Yeong Min hyung?”

Ye Eun terdiam. Ia menurunkan tangan Jong Min dari pipinya. “Kami sudah putus beberapa hari yang lalu.”

“Putus?”

“Ne… dia, sudah memilih gadis lain. Yah, biarlah. Mungkin, aku belum berjodoh dengannya.” Ucap Ye Eun sambil tersenyum.

Jong Min menatap gadis yang sudah lama ia sukai dengan tatapan kasihan.

 

-oOo-

            ‘Ya, ini semua karna aku. Dia terlalu baik. Aku sangat tidak tega jika dia harus sengsara di kegelapan. Jong Min… mianhae.’ Lirih Ye Eun sambil terus berjalan di trotoar.

KLING!

Lampu hijau untuk pejalan kaki telah menyala. Ye Eun pun langsung menyebrang. Tapi, ia berjalan sangat pelan. Sampai – sampai lampu hijau untuk pejalan kaki telah berkedip. Kemudian berganti warna merah.

 

-oOo-

            Gelap. Gelap. Hanya itu yang di lihat oleh pria berambut hitam tebal itu. tapi, setelah perban putih di lepas dari kepalanya yang menutupi kedua matanya, akhirnya cahaya lampu di dalam ruangan serba putih itu masuk ke dalam matanya.

“Bagaimana? Kau sudah dapat melihat dengan baik lebih dari sebelumnya?” tanya si dokter yang sudah menangani Jong Min 2 tahun belakangan ini.

Jong Min tersenyum. “Ne, ini lebih baik. Kamsahabnida….”

Dokter itu bahagia karena pasiennya sudah sembuh. “Kau harusnya mengatakan itu pada gadis yang telah memberimu kedua mata di kepalamu itu.”

“Gadis?” Jong Min keheranan.

“Gadis yang meninggal karena kecelakaan. Tapi di detik – detik kritisnya, ia berpesan, untuk menyumbangkan kedua matanya padamu. Apa dia teman dekatmu?”

Jong Min memutar otaknya. Hatinya terasa sakit tiba – tiba. ‘Ye Eun. Apa itu Ye Eun?’

 

-oOo-

            BLAM!

Jong Min masuk ke dalam kelas yang sudah lama ia tinggalkan. Semua murid keheranan melihat Jong Min muncul tiba – tiba. Lalu ia pun langsung bertanya pada seorang gadis yang duduk di depan bangku Ye Eun biasanya.

“Kau, tau dimana Ye Eun? Kenapa jam segini dia belum datang?”

“Ye Eun? Kau sungguh tidak tau dimana dia?” tanya gadis dengan rambut pendek itu. jong Min terdiam. “Ye Eun… sudah meninggal seminggu yang lalu. Karena kecelakaan.”

Kaki Jong Min langsung melemas. Ia pun langsung terjatuh. Air matanya langsung mengalir di pipinya. Bibirnya bergetar. “Ye Eun… apa benar, ini mata milikmu?”

 

-oOo-

            Pulang sekolah, Jong Min langsung meminta ibu Ye Eun mengajak dirinya ke kuburan Ye Eun.

Setelah menanjak bukit, akhirnya Jong Min dan wanita separuh baya yang seminggu lalu telah kehilangan putrinya, sampai di sebuah gundukan kecil dan di ujungnya terdapat batu yang berdiri bertuliskan ‘Park Ye Eun’.

“Jong Min….” panggil ibu itu.

Jong Min melirik ke arahnya. Lalu ia pun di berikan sebuah amplop berwarna merah.

“Ini dari Ye Eun. Aku yang menulisnya saat ia hampir meninggal. Jadi, maaf kalau tulisannya kurang rapih.”

Dengan tangan gemetar, namja yang masih berpakaian seragam itu mengambil amplop merah tersebut. Kemudian mengambil selembar kertas putih di dalamnya. Ia membuka lipatan tersebut dan terpampanglah tulisan – tulisan khas Ye Eun.

 

‘Jong Min… gomawo, sudah selalu berada di sisiku beberapa lama ini. Kau adalah penyelamatku, kau adalah sahabat terbaikku. Dan kau adalah orang yang sangat aku sukai. Memang, pada awalnya aku menyukai Yeong Min sunbae. Tapi, sukaku pada Yeong Min sunbae mengalahkan sukaku padamu Jong Min. 2 tahun yang lalu, dimana harusnya aku yang mengalami kecelakaan itu, malah kau yang mengalaminya dan matamu memiliki gangguan hingga kau bisa buta sewaktu – waktu. Tetapi, aku harap kau kali ini bisa melihat kembali dengan jelas. Dengan kedua mataku, ku berikan untukmu Jong Min. menyatakan bahwa aku sangat menyukaimu. Supaya kau bisa merasakan ku dekat dengan dirimu. Jika kau tidak menerima mataku, aku tetap akan pergi selama – lamanya. Sebuah takdir yang tidak bisa dihindari. Saranghaeyo.’

 

“Ye Eun….” Jong Min mulai menangis. Ia terduduk di atas tanah tersebut. Air matanya mengalir deras. Dan mulutnya terus memanggil Ye Eun.

 

Cinta… tidak seharusnya bahagia.

Cinta, membutuhkan pengorbanan.

Tapi, cinta membutuhkan ketulusan.

Melalui sebuah mata, semuanya akan tau ketulusan tersebut.

 

-oOo-

 

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s