[Film] The Millionare Girl

rom_副本

THE MILLIONARE GIRL

SS ENTERTAINMENT PRESENT

“Kekayaan, bukan segalanya untuk cinta.”

 

Cast :

–          Bae Suzy a.k.a Seo Jung Ah

–          TOP Bigbang a.k.a Choi Ji Woo

Genre : Romance

Rating : Teens

Summary : “Kekayaan, bukan segalanya untuk cinta.”

 

-oOo-

Mewah? Bergeliman harta?

Tapi apa jadinya tanpa sebuah cinta di hati?

 

Seo Jung Ah, gadis kaya raya yang cantik dan juga seksi. Rambutnya panjang tergerai lurus berwarna hitam kecoklatan, poni lurus yang menutupi dahinya, matanya yang berbinar, bibirnya yang tipis kemerahan, hidungnya mancung, dan dagunya terbentuk, serta pipinya sedikit chubby, menambah kemanisan yang di miliki gadis satu – satunya seorang milliader perusahaan ternama dan terbesar di Seoul.

 

Siang ini, ia baru saja selesai bersekolah. Ya, bukan sekolah di tempat umum, tetapi sekolah di sebuah ruangan besar yang di sediakan di rumah besar milik ayahnya. Ia sama sekali tidak pernah melihat dunia luar sedikitpun. Bisa dibilang, Jung Ah tidak memiliki seorang teman ataupun sahabat. Walaupun begitu, ia adalah gadis yang sangat beruntung di dunia ini. Setiap keinginannya, selalu di penuhi oleh orang tua satu – satunya yang ia punya.

 

“Appa, aku minta ganti guru baru!” seru Jung Ah pada sang Ayah dari telfon genggam miliknya setiba ia di kamarnya yang luasnya mungkin sama seperti lapangan sepak bola di Jerman.

“Iya, nanti akan Appa gantikan. Memang gurumu yang ini kenapa?”

“Aissh… dia itu sudah terlalu tua. Aku tidak bisa mendengar jelas ucapannya.” Keluh Jung Ah lagi.

Sang Ayah mendesah sabar dari sebrang sana. “Baiklah. Besok kau sudah bisa mulai belajar dengan gurumu yang baru.”

“Jinjayo? Gomawo Appa!! Oya, nanti malam Appa pulang?”

“Anii… Appa mesti pergi ke USA. Tuan Edward meminta Appa kesana. Kau tidak apa kan Appa tidak pulang hari ini?”

Jung Ah memanyunkan bibirnya. Ia tidak ingin sendirian lagi makan malam. Memang, memiliki seorang Ayah yang super sibuk, pasti resikonya adalah jarang bisa bersama. “Ne, gwencahana. Appa baik – baik di sana ne. jangan cari istri baru. Istri Appa, dan anak Appa, Cuma aku. Ne?”

“Haha… ne Jung Ah, anak Appa yang paling manis dan paling cantik yang sangat Appa cintai. Ya sudah, Appa mau kerja dulu ya. Bye….”

“Bye Appa.” Jung Ah melihat ponselnya setelah ia menurunkan dari daun telinganya. Tidak lama kemudian, ia melempar ponselnya ke ranjangnya yang tidak jauh dari ia duduk. “Tuan Lee!!”

“Ah, ya agashi?” tuan Lee atau kepala pelayan yang sudah cukup tua karena rambutnya sudah memutih itu datang menghampiri nonanya yang berteriak di dalam kamarnya.

“Nanti malam, aku mau makan di restaurant. Siapkan mobil yang warna merah untukku. Aku ingin menyetir sendiri.” Ucap Jung Ah kemudian berdiri dari duduknya menuju lemari besar miliknya.

“Baik agashi. Ada yang lain?” tanya si tuan Lee setelah mencatat perintah dari Jung Ah.

Seo Jung Ah, membuka lemari bajunya dan mengambil satu dress warna pink pastel. “Ini tolong di setrika. Aku sudah lama tidak memakainya. Dan ini nampak kusut.”

Tuan Lee mengambil gaun itu dan membungkuk. “Baik agashi, akan ku suruh Bibi Shin untuk menggosoknya.”

“Baiklah. Pukul 4 sore harus sudah selesai.” Suruh si nona Seo itu dengan tatapan menyuruhnya.

“Baik agashi. Jika tidak ada lagi, saya pamit keluar.”

“Oke.”

 

Tuan Lee itu pun segera berjalan keluar dari kamar Jung Ah. sementara si gadis itu, pergi ke ranjangnya dan merebahkan dirinya di sana untuk sebentar.

 

-oOo-

            Music di lantunkan dengan sangat merdu. Gesekan – gesekan biola memenuhi ruang makan yang begitu mewah tersebut.

 

Pesanan Jung Ah untuk makan malam ini adalah satu porsi spageti seafood kesukaannya. Namun, ia merasa tidak nikmat makan makanan mahal tersebut. Ia merasa ada yang kurang, serasa kosong dan sangat hampa.

 

“Haha… Oppa… gomawo!” seru seorang gadis membuat Jung Ah mencari sumber suara itu. ternyata seorang gadis berambut pendek yang tengah gembira setelah mendapat sebuah cincin dari sang kekasih atau sang tunangan mungkin, yang di taruh dalam gelas sampanye. Namun Jung Ah mencibir. “Huh, seperti dalam drama.”

 

Jung Ah kembali mengambil beberapa helai spageti dan ia masukkan kedalam mulutnya. Namun telinganya kembali bergoyang mendengar suara berat yang dengan suksesnya di tangkap oleh gendang telinga Jung Ah.

 

“Ne cheonmaneyo.”

 

Lagi – lagi Jung Ah menoleh pada meja nomor 4 tersebut. Di lihatnya sang pria tengah mengelus lembut kepala sang gadis. Membuat Jung Ah meremas keras garpu yang tengah di pegangnya. Cemburu? Tidak, bukan cemburu… tapi Jung Ah merasa ingin seperti itu. di perlakukan romantic oleh seorang pria. Jung Ah kan juga perempuan. Jung Ah kan juga seorang remaja. Toh, sampai kapan ia akan terus – terusan menjadi anak Ayah? Memang ia tidak pernah kekurangan dalam hal apapun. Tapi, kali ini berbeda.

 

-oOo-

            “Appa… boleh ya… aku ingin pria tampan, kaya, dan juga populer!” Rengek Jung Ah sambil merangkul lengan Ayahnya setelah Ayahnya baru pulang dari USA siang itu.

Ayahnya terdiam di tengah ruang yang luas tersebut. Ia menatap anaknya yang paling manis kemudian mengusap poni anaknya sebentar. “Kau ini masih kecil. Belum saatnya merasakan cinta. Kau mengerti? Jodoh itu tidak akan kemana… kau pasti akan mendapatkan jodohnya nanti jika sudah dewasa.”

“Tapi Appa… aku juga masih muda. Apa Appa tega, melihat putri kesayangan Appa ini tidak mempunyai kenangan masa muda yang indah?” kini Jung Ah semakin mendesak Ayahnya untuk membiarkan ia memiliki pasangan.

Ayahnya tersenyum. “Ne, baiklah. Appa tidak ingin kau tidak mempunyai kenangan masa muda. Appa akan segera memberikanmu pasangan. Tapi janji, harus rajin belajar.”

“Ne! gomawo Appa!” seru Jung Ah berseri – seri kemudian mengecup pipi sang Ayah sekilas.

 

-oOo-

            “Apa? Tuan ingin saya mencarikan seorang pemuda untuk agashi?” tanya tuan Lee kaget sambil mengikuti Ayah Jung Ah menuju meja kantornya dan menaruh tasnya di meja coklat tersebut.

“Ya, carikan saja. pemuda tampan, dan latar belakangnya yang juga terjamin.”

“Baik tuan. Tapi, ini akan lama.” Ucap tuan Lee sambil menunduk.

Ayah Jung Ah tersenyum pada orang yang telah bekerja padanya sebelum Jung Ah lahir. “Kalau bisa secepatnya. Kau tau kan, Jung Ah itu seperti apa?”

“Ne tuan.”

 

-oOo-

            Seorang pemuda dengan rambut hitam tebal, menutup buku bacanya dan segera berjalan keluar kafe. Namun begitu di luar kafe, ia bertemu dengan seorang bapak tua. Dimana dia Tuan Lee, ketua pelayan di rumah kediaman Seo.

 

“Anda siapa?” tanya pria itu dengan menyipitkan matanya.

“Saya Lee, ketua pelayan dari kediaman Seo. Saya di suruh menjemput anda.”

“Mwo?”

 

-oOo-

            “Tidak! Jangan yang itu!! yang warna pink! Oke, warna pink!” seru Jung Ah menyuruh para pelayannya mencarikan baju yang cantik dan cocok untuk tubuhnya itu. tentu saja untuk makan malam bersama seorang yang akan di jodohkan oleh Ayahnya.

“Ini agashi?” tanya sang pelayan berwajah bulat itu sambil menyodorkan sebuah gaun dengan warna pink serta putih tipis.

Jung Ah menyipitkan matanya. Lalu mengambil gaun itu. mulutnya langsung menganga lebar. “Wah… pilihanmu bagus sekali! Aku pilih yang ini!”

“Ah, gomawo agashi.” Pelayan itu tersipu.

“Agashi, sepatu ini bagaimana?” kini pelayan kedua dengan rambut coklatnya menyodorkan sepatu high hells warna pink.

 

Jung Ah langsung menerimanya. Si gadis penyuka warna pink tersebut segera masuk ke ruang ganti di department store milik Ayah Jung Ah tersebut. Setelah beberapa menit, si pemilik rambut panjang itu keluar dari ruang kecil berpintu kain warna putih itu. para pelayan yang menemaninya belanja memelototkan matanya melihat si bidadari berpakaian sungguh manis.

 

“Apa aku cantik?”

“Ne, agashi!”

“Kau cantik sekali….”

 

Pujian demi pujian di terima Jung Ah.

 

-oOo-

            Pukul 8 malam tepat, Jung Ah telah sampai di sebuah restaurant bernuansa oranye. Kini dentingan piano memenuhi ruangan wangi makanan tersebut. Ia berjalan dengan penuh ke anggunan menuju meja nomor 3 yang telah di pesan oleh Ayahnya. Dan tentu saja, pria berwajah tampan yang memiliki putri bernama Seo Jung Ah itu sudah ada di sana. Di hadapan Ayahnya, terdapat pemuda dengan setelah jas semi resmi yang telah menunggu bidadarinya datang.

 

“Anyeong!” sapa Jung Ah begitu ia sampai di sana. Matanya melirik ke Ayahnya kemudian ke sebelah kiri ia berdiri. Melihat pemuda tampan yang begitu cool di hadapannya itu, tentu saja membuat jantung Jung Ah berdetak begitu cepat.

“Jung Ah-ya, ayo duduklah.” Suruh sang Ayah. Setelah anaknya itu duduk rapih di sebelah pemuda itu, ia pun mulai mengenalkan sang pemuda yang duduk di sebelahnya. “Jung Ah, ini dia pemuda yang ingin Appa kenalkan padamu. Namanya Choi Ji Woo.”

Jung Ah melirik ke sebelahnya. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya sedikit. “Anyeong….”

Pemuda yang sedari tadi diam akhirnya menoleh ke arah Jung Ah. matanya terlihat bersinar menatap gadis cantik di depannya yang tengah melambaikan tangannya dan tersenyum. Namun, Ji Woo tetap saja diam dan memasang tampang coolnya. “Anyeong.”

“Ah…,” Jung Ah terlihat lega. Lalu melanjutkan percakapannya. Ia mengulurkan tangannya. “Naneun Seo Jung Ah. kau siapa?”

“Bukankah Appamu sudah bilang? Aku Choi Ji Woo. Ji Woo. Choi Ji Woo.” Ulang pemuda itu berkali – kali.

 

Jung Ah menarik kembali tangannya dan mengecap bibirnya karena kesal.

 

Ayahnya tersenyum melihat tingkah kedua remaja di depannya itu. “Baiklah, kalian mau pesan apa?”

 

-oOo-

            “Telfon, tidak, telfon, tidak. Ah!! aku ini! Benar – benar gila di buatnya!” kesal Jung Ah sendiri di ranjangnya sambil memandangi ponselnya yang sesekali redup tapi ia membuka kuncinya kembali dan nampaklah wallpaper wajah imutnya yang sedang tersenyum.

 

DRRT~ tiba – tiba ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dan pesan itu segera di buka Jung Ah. muncullah pesan singkat tersebut dari CHOI JI WOO.

 

‘Rambut panjang. Besok jam berapa?’

 

“Cih! Apa maksudnya? Ku kira ia akan mengucapkan selamat malam atau bertanya sedang apa. Ternyata ia malah menanyakan ini.” Dengan kesal Jung Ah langsung mengetik balasan untuknya.

 

‘Baboya! Apa kau lupa hah?! Kita selalu sepakat janjian jam 2 siang di depan kantor Appa!!’

 

Ji Woo yang sedang di meja kantornya senyum – senyum sendiri melihat pesan balasan dari Jung Ah. seseorang yang di jodohkan oleh teman Ayahnya. “Jung Ah, kau itu terlalu manja. Appamu bilang seperti itu.”

 

Ia melihat sebuah bingkai perak yang bertengger manis di ujung meja coklat muda tersebut. Ya! Di sana ada foto Jung Ah. entah sejak kapan Ji Woo memiliki foto Jung Ah. dan entah sejak kapan ia berharap pada Jung Ah. Apa setelah makan malam dengan Jung Ah serta tuan Seo?

 

-oOo-

            “Kau mau mengajakku ke rumahmu?!” seru Jung Ah senang sambil berjingkrakan dan kembali memeluk lengan Ji Woo dengan begitu erat. “Ah… aku senang sekali.”

Ji Woo tersenyum kecut pada Jung Ah. siang hari ini, di kencan yang entah keberapa, Ji Woo bermaksud mengajak Jung Ah ke sebuah rumah. Rumah yang sebenarnya bukan miliknya. “Belok sini.”

Jung Ah terkaget setelah Ji Woo menunjukkan kearah timur. Dimana itu ada ratusan anak tangga yang harus ia naiki untuk ke perkomplekan. “M, Mwo?!”

“Wae? Kau tidak mau ke rumahku?” heran Ji Woo.

Jung Ah menatap Ji Woo dan mencibirkan bibirnya. “Aku mau ke rumahmu Oppa!”

“Ya sudah, ayo naik.” Ji Woo langsung menarik tangan Jung Ah untuk segera menaiki ratusan anak tangga tersebut.

 

Setelah beberapa menit, dengan susah payah, akhirnya Jung Ah berhasil menaiki tangga teratas bersama Ji Woo.

 

“Hah… hah… chakkaman!” seru Jung Ah sambil duduk di tangga paling atas dan melepas genggaman tangan Ji Woo.

Si pria dengan baju putih itu tersenyum dan duduk di sebelah Jung Ah. “Apa kau lelah?”

“Babo! Tentu saja lelah!” teriak si gadis dengan rambut panjang itu sambil mencubit lengan Ji Woo beberapa kali. “Heh! Apa kau tinggal di tempat kumuh ini?!”

“Kumuh? Jadi kau mengira ini kumuh?” tanya Ji Woo dengan tatapan kesal.

“Hmm… iya memang. Tempat ini kumuh!”

“Kau! Jika memang aku tinggal di tempat ini, apa kau masih akan mengatakan cinta padaku?”

 

Jung Ah terdiam. Memang benar, selama semingguan ini, Jung Ah selalu mengatakan cinta pada Ji Woo. Tentu saja karena Ji Woo tampan.

 

“Sudah, kau lelah kan? Ayo masuk ke rumahku. Aku akan memberimu minuman dingin.” Ji Woo kembali menarik tangan Jung Ah dan langsung berjalan menuju sebuah rumah yang terbilang terhimpit rumah – rumah lain. Pintu yang kecil, dan lokasinya sungguh kotor. “Ayo.”

“Ah ne.” Jung Ah langsung masuk ke dalam rumah yang di tunjukkan Ji Woo. Ia melepas sepatunya dan menginjakkan kaki pada lantai dingin tersebut.

Ji Woo menutup pintunya dan bergegas ke dapur yang jaraknya tidak jauh. Ada di satu ruangan tempat Jung Ah berdiri. “Mau minum apa?”

“Emm… jus?”

“Tidak ada. Ini bukan restaurant.” Keluh Ji Woo sambil membuka kulkasnya.

“Air putih saja.” ucap Jung Ah terlihat kecewa.

Ji Woo segera mengambil sebotol air mineral dingin dan dia berikan pada Jung Ah yang masih berdiri. “Duduklah. Apa tempat ini terlalu sempit?”

“Tidak.” Jawab Jung Ah santai dan segera duduk dan kakinya di selonjorkan di meja pendek tersebut.

Ji Woo pun segera duduk di hadapan Jung Ah dan menatap gadis yang tengah meneguk air mineral tersebut. “Kau tampak berbeda. Apa kau tidak mencintaiku lagi?”

Jung Ah menurunkan botolnya. Ia menatap Ji Woo. “Siapa bilang?”

Ji Woo pun berdiri dan bersiap untuk memasak. “Kau mau makan apa?”

Jung Ah tersenyum dan langsung memeluk Ji Woo dari belakang yang sedang mengikat celemek masak tersebut. “Oppa… kita masak bersama. Kau mau?”

 

Ji Woo tersenyum sambil mengelus tangan Jung Ah yang masih memeluk perutnya.

 

Selama 30 menit berlalu, akhirnya selesai juga masakan yang di buat Ji Woo dan Jung Ah bersama –sama. Mereka membuat jajangmyun sambil bercanda tawa bersama. Wajah Jung Ah terlihat begitu cerah setelah masakan mereka jadi.

 

“Waw! Jajangmyun Ji Woo dan Jung Ah telah jadi!!” seru Jung Ah sambil menunjukkan jajangmyun tersenyum di atas meja.

Ji Woo tertawa lucu melihat Jung Ah yang begitu senang. “Hey… itu masakanku! Kau hanya membantu mengirisnya tau!”

“Hufth… tapi tetap saja ini masakanku juga!” seru Jung Ah sambil memegang sumpit bersiap melahapnya.

“Mengirispun tidak becus. Sama sekali tidak berseni.”

Jung Ah merasa panas karena di ejek terus oleh Ji Woo. “Yaa!! Kalau tidak mau makan ya sudah buat aku saja!”

Hampir saja Jung Ah menarik mangkuk jajangmyun milik Ji Woo. Tapi Ji Woo malah menahannya. Dan wajahnya maju untuk mengecup bibir merah milik Jung Ah. tentu saja membuat gadis bermarga Seo itu diam mematung. Tapi Ji Woo langsung mencubit hidung manjung Jung Ah. “Hey babo! Bergerak lah….”

“Yaa! Sakit!!” teriak Jung Ah sambil mengeplak tangan Ji Woo yang mencubit hidungnya hingga merah.

“Hahahaha….” Ji Woo tertawa senang setelah melepas cubitan di hidung Jung Ah. lalu ia pun bersiap berdiri. “Balas aku.”

“YAA!! SINI KAU OPPA!!” Jung Ah pun berdiri dan segera berlari – lari mengitari meja mengejar Ji Woo untuk mencubit hidungnya.

 

-oOo-

            “Rumah ini… kecil tapi nyaman.” Ucap Jung Ah yang kini ada di pelukan Ji Woo. Sementara Ji Woo bersandar di tembok sambil melihat TV.

“Benarkah? Apa karena ada aku?”

“Tentu saja.” Jung Ah tersenyum manis.

“Tapi, kenapa tadi kau terlihat kesal ketika ku tunjukkan rumahku ada di atas tangga?”

“Emm… itu karena Oppa tidak memberitauku sebelumnya. Oppa berdandan layaknya orang kaya, dan appa juga bilang kalau Oppa adalah calon pewaris hotel terbesar di Seoul. Huh… dasar tukang bohong.” Kesal Jung Ah sambil terus memanyunkan bibirnya.

“Hey! Jika kau masih memanyunkan bibirmu, akan ku cium nanti.”

 

Dengan sigap Jung Ah menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tapi Ji Woo langsung menurunkannya. Ia memeluk lebih erat perut Jung Ah.  kepalanya di sandarkan pada kepala Jung Ah yang ada di depannya.

 

“Sebenarnya, aku berbohong sekarang juga karena kemauan appamu.”

“Mwo? Kemauan appa?”

“Ne… aku memang benar calon pewaris hotel terbesar di Seoul. Karena mana mungkin, seorang tuan Seo, mau menjodohkan anaknya dengan orang yang hanya punya rumah sekecil ini.”

“Ja, jadi…,” kini Jung Ah bangun dari pelukan Ji Woo dan menghadap ke belakang menatap kekasih yang belum lama ini menjadi miliknya. “Oppa dan appa saling bekerja sama?!”

“Hehe, ne. ini karena kau selalu bilang pada appamu ingin pria yang kaya. Benar kan?”

Jung Ah cemberut. Memang benar, Jung Ah ingin pria yang kaya. Tapi, Jung Ah juga membutuhkan cinta. Dan selama ini, orang yang pertama kali di cintainya adalah Ji Woo. Ia pun segera memeluk Ji Woo dan merebahkan kepalanya tepat pada dada Ji Woo. “Tapi aku mencintaimu Oppa. Bukan karena hartamu. Entah kenapa, baru kali ini, aku merasakan kau cinta padaku. Apa kau mencintaiku dulu? Jika tidak, kenapa menerimaku?”

Tangan Ji Woo di letakkan pada kepala Jung Ah. ia mengelusnya begitu lembut. “Aku mencintaimu sejak awal aku bertemu denganmu. Ku pikir kau adalah bidadari yang turun untuk menjemputku dan membawaku ke surga. Hehe, sejak saat itu, aku juga ingin menyatakan cinta padamu. Tapi itu tidak mungkin kan? Kita belum kenal dekat. Dan aku pun belum tau, kau suka pada kekayaan, atau pada hati pria itu sendiri. Jadi saat kau menembakku, aku tentu saja mau menerimamu. Setelah aku melakukan hal yang di perintahkan tuan Seo, kini aku mengerti, kau cinta padaku bukan karena kekayaanku.”

“Appa benar – benar mengesalkan.” Jung Ah bangkit dan menatap Ji Woo dengan kesal. “Yaa! Jika kau memang mencintaiku, kenapa kau bisa sekali cuek padaku selama 2 bulan ini?!”

Senyum Ji Woo terulas. Ia memegang dagu Jung Ah dan memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Jung Ah. ya, di malam hari yang dingin, di sebuah ruang kecil tanpa penghangat, kini ada dua insan yang baru saja saling menyatakan perasaan mereka.

 

Sebuah cinta tidak seharusnya karena kekayaan….

Ketampanan atau kecantikan….

Ataupun kepopuleran dari seseorang….

Cinta dari hati….

Dari perasaan yang kita miliki….

 

-oOo-

END

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s